Sabtu, 31 Desember 2011

Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari

Ass, alhamdulillah...saya merasa terharu karena baru saya postingkan Judulnya, tetapi sudah mendapat tanggapan yang bersemangat dengan 7 (tujuh) komen. Semoga selalu tetap terjaga semangat. Amin.

Yang terjadi dengan awal posting ini adalah ketika saya membaca komen-komen Bapak/Ibu berkaitan Incommensurability dan Siswa Menentukan Kurikulum, saya menangkap ada nuansa kebingungan atau kepanikan (dalam tanda petik) dari para Guru, dikarenakan adanya kesadaran ontologis akan makna Dunia Lain dari Pendidikan yang saya Kenalkan dari Konteks Inggris. Jadi saya sedang melihat adanya gerakan sintesis dari Tesis Dunia Sore Hari (mungkin, Pendidikan Tradisional Indonesia) terhadap Anti-tesis Dunia Pagi Hari (mungkin contohnya, Pendidikan Progressif Inggris). Dunia masing-masing dengan konteksnya itulah yang kemudian ingin saya tulis dan saya beri judul sebagai "Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari". Jika diperhalus maka judulnya menjadi "Kicauan Burung di Pagi Hari dan Engkerikan Jengkerik di Sore Hari". Judul yang setara dapat dibuat misalnya "Embun di Pagi Hari dan Hujan di Sore Hari". Agar tidak lupa menulisnya maka saya tuliskan judulnya dulu, kemudian akan saya lanjutkan jika sudah sampai waktunya.

Berikut sintesisnya:
Pagi dan Sore adalah Dunianya masing-masing lengkap dengan strukturnya, kontennya, aturannya, sifat-sifatnya. Bahwa Kicauan Burung itu dilazimkan terjadi di Dunianya Pagi hari, sedangkan Engkerikan Jengkerik dilazimkanterjadi pada Dunianya Sore hari. Bahwa Embun di lazimkan jatuh di Pagi Hari, sedangkan Hujan dilazimkan di sore hari. Itu semua adalah kewajaran dan hukumnya Sunatullah. Maka orang Jawa mengenal istilah "Ngebun-ngebun Enjang, jejawah Sonten" artinya adalah Lumrah bahwa Embun itu di Pagi hari dan Hujan di Sore hari, untuk melazimkan bahwa Meminang seorang Gadis itu juga merupakan suatu kelaziman, yang tidak perlu diper Herankan. Kemana arah pembicaraan saya?

Pagi Hari dan Sore Hari masing-masing adalah Dua Dunia dengan segala sifatnya dan kodratnya. Dia mempunyai Persoalannya masing-masing; dia mempunyai PERTANYAANNYA masing-masing. Jika kita kiaskan Dunia Pendidikan Tradisional Kita sebagai Dunia Sore, maka akan dijumpai segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya yang BERBEDA dengan segala Persoalan dan Pertanyaan dari para Penghuninya Dunia Progressif Inggris di Pagi Hari. Terkadang dijumpai bahwa Persoalan dan Pertanyaan tidak mampu melampaui Dunianya karena Kodratnya. Mereka terikat oleh Paradigmanya masing-masing; sedangkan Filsafat berupaya untuk melepas belenggunya.

Persoalan dan Pertanyaan dari Kita Guru-guru penghuni Dunia Sore Pendidikan Tradisional tidak mampu keluar dari pertanyaan: Bagaimana mengajar dengan baik?; Bagaimana menyampaikan materi dengan baik?, Bagaimana memberi bekal sebanyak-benyaknya?; Bagaimana menyelesaikan kurikulum?; Bagaimana membuat siswa merasa senang belajar?; Bagaimana mencapai kelulusan maksimal?; Bagaimana memotivasi siswa?; Bagimana memberi Appersepsi?; Bagaimana mengaktifkan siswa; Bagaimana menjelaskan materi dengan baik? Bagaimana mengajarkan materi yang sama, untuk siswa yang berbeda, dengan waktu yang sama, agar diperoleh hasil yang sama? Bagaimana agar siswa tertib mengikuti pelajaran?.....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Sore Pendidikan Tradisional, yang secara Laten dan Immanent selalu ada sebagai Ruh dan Jiwanya Dunia Sore. Paradigma itu meliputi: Transfer of knowledge; Transfer of learning; Murid sebagai Empty Vessel; External Evaluation (UN); Test Objective; External Motivation; Homogenous (Penyeragaman); Pendidikan adalah Investasi; Ilmu sebagai Struktur; Content Based Curriculum; Separated BasedCurriculum; Pendidikan bersifat tertutup..dst.

Persoalan dan Pertanyaan Guru-guru Penghuni Dunia Pagi Pendidikan Innovatif berakar dan membudaya meliputi: Bagaimana melayani kebutuhan siswa belajar?; Bagaimana mengembangkan LKS?; Bagaimana mengetahui Perbedaan Kemampuan siswa? Bagaimana menindaklanjuti keinginan siswa? Bagaimana memfasilitas agar pada waktu yang berbeda, siswa yang berbeda, dapat mempelajari matematika atai sain yang berbeda, dengan hasil yang tentunya okelah berbeda; Bagaimana mengembangkan assessment?; Bagaimana mengembangkan Portfolio siswa?; Bagaimana mengembangkan Variasi Media, Variasi Metoda, Variasi interaksi; Bagaimana mengembangkan metode diskusi....Maka semua Persoalan dan Pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan Paradigma Dunia Pagi Pendidikan Inovatif yang secara Laten dan Immanent memang menjadi ciri khasnya Dunia Pagi.

Dengan susah payah saya berusaha menggambarkan bagaimana Sulitnya dan Pengorbanan memasuki dan berusaha beradaptasi dengan Dunia Baru yaitu dari Dunia Sore Tradisional menuju Dunia Pagi Inovatif. Diperlukan kondisi Ekstrinsik yang sangat kuat dari dalam diri berupa Niat, Semangat, Sikap, Pengetahuan, Ketrempilan dan Pengalaman agar perjalanan Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalaupun hal demikian sudah terpenuhi maka masih mengalami persoalan-persoalan dari Luar dirinya baik yang bersifat Ekstrinsik maupun Sistemik. Maka Hermenitika yaitu terjemahan dan diterjemahkan menjadi sangat penting agar seorang Guru dari Penghuni Sore Pendidikan Tradisional mampu Hijrah dengan kesopan santunan terhadap Ruang danWaktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau kita telah berusaha memasuki Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, maka kita menjumpai bahwa ternyata Nyanyian, Kicauan dan Serangga-serangga pun berbeda.

Itulah sekali lagi, betapa tidak mudah melakukan Inovasi Pendidikan. Secara filsafati aku menemukan bahwa Inovasi itu ternyata tidak lain tidak bukan adalah Diriku sendiri. Diriku itulah Dunia Pagi Pendidikan Inovatif. Jikalau di Pagi hari masih terdengar suara Jengkerik, maka gejala aneh apa yang sedang aku alami. Jika di sore hari turunlah Embun, maka gejala aneh apa lagi pula yang sedang aku alami. Sadar, sopan, dan santun terhadap Ruang dan Waktunya Dunia Pagi Pendidikan Inovatif sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Keterampilan dan pengalaman sangat perlu tetapi ternyata belum cukup. Diperlukan diri, orang lain, ekstrinsik dan sistemik, yang merupakan kesadaran bersama dan gerakan tindakan bersama untuk sampai kesana. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku tidak menyadarinya; maka semua yang berasal dari luar diriku akan terasa sebagai beban bahkan bencana bagiku. Aku menjadi ragu-ragu apakah aku perlu bertanya perlukah aku atau bisakah aku mencegah diriku berpindah atau hijrah dari Sore menuju Pagi? Kadang-kadang aku juga bingung saat ini masih Sore atau sudah Pagi? Suara apakah itu? Apakah itu suara Jengkerik? ataukah suara Burung? Aku agak sulit membedakan karena sumber suaranya terlalu jauh dan lemah. Tetapi suara yang dekat ini walaupun keras, tetapi polanya tidak karuan, sehingga akupun sulit membedakan apakah suara Jengkerik atau suara Burung. Aku heran temanku itu, kenapa dengan lihainya bisa menirukan Kicauan Burung Cocak Rawa di Pagi hari? Walaupun demikian, bagaimanapun akau masih tetap bersyukur, karena setidaknya aku mulai bisa membedakan bahwa saatnya kini sudah mendekati Waktu Pagi. Ah..aku jadi agak malu jika ketahuan temanku, jika aku tidak mampu membedakan Sore dan Pagi bukankah itu metaforanya aku tidak mempu membedakan Tradisional dan Inovatif?

Di tengah kegalauan pikirku, muncul terang Filsafatku yang menuntun diriku yang mengatakan bahwa "bukankah perpindahan Sore menuju Pagi itu juga sebuah Kelaziman yaitu Sunatullah?" Oh kalau begitu aku telah menemukan kembali simpanan Filsafatku bahwa untuk Hijrah dari Dunia Sore Pendidikan Tradisional menuju Dunia Pagi Pendidikan Inovatif, aku harus mengembangkan sopan santunku terhadap Ruang dan Waktunya. Di Pagi Hari nanti seakan aku tidak sabar ingin Berkicau layaknya Burung Cocak Rawa. Kicauanku akan aku selaraskan dengan Hakekat dan Sifat-sifat Dunianya Pagi. Itulah ikhtiarku. Itulah juga ketetapanku. Aku ingin mempelajari lebih lanjut Fenomena Incommensurability dan Fenomena Siswa Menentukan Kurikulum yang diberikan contoh oleh Dosenku. Aku tidak ingin hanya mengetahui, tetapi aku ingin menghayati dan mengimplementasikan, karena aku juga telah menemukan Ontologisnya bahwa Perbedaan Individu itu ternyata juga Sunatullah.

Di dalam jatuh bangunnya perjalananku ini, untuk mengisi sisa hidupku ini, agar konon mampu menjadi seorang Guru yang Inovatif, ternyata aku menemukan fakta baru lagi, karena semua yang baru aku ungkapkan itu hanyalah sebagian kecil dari aspek Hidupku, sedangkan dalam dan di luarnya, ini dan selebihnya ternyata aku harus memohon Pertolongan dan Memanjatkan Doa ke Hadlirat Allah SWT semoga apa yang aku sadari, aku cita-citakan di Ridai dan dikabulkan.

Amin.

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?

Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu. Kemudian Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

Forum Tanya Jawab 62: Incommensurability

Oleh Marsigit

Saya sampaikan pengalaman pribadi sebagai berikut:

Langganan Internet unlimited di Indonesia kira-kira biayanya Rp 350.000,- per bulan. Jika seorang Dosen dengan Gaji sebesar Rp. 3.500.000,- per bulan, maka diperlukan sepersepuluh Gaji untuk biaya langganan Internet. Pengalaman saya di Thailand menggunakan jasa Internet dengan Roaming Internasional terkena biaya kira-kira Rp 3.500.000,- untuk penggunaan 5 (lima) jam. Artinya, Gaji 1 (satu) bulan seorang Dosen di Indonesia, hanya cukup untuk membayar 5 (lima) jam Internet International Roaming di Thailand. Jadi agar bisa hidup layak menggunakan Internet Roaming Internasional di Thailand selama 1 (bulan) dengan 5 (lima) jam nginternet, diperlukan biaya 30 x Rp 3.500.000,- = Rp 105.000.000,- (seratus lima juta rupiah). "Seratus lima juta rupiah" itulah angka kecukupan wajar (gaji perbulan mestinya), bagi seorang Dosen Indonesia jika dia ingin secara wajar bisa melakukan pergaulan Internasional. Itupun jika hanya diukur dari kebutuhan akses internet saja. Ditinjau dari sisi Ekonomi, maka secara kasar kemampuan Bangsa Indonesia hanyalah sepertigapuluh dari negaranya Sang Power Now. Betapa Mahal biaya yang diperlukan oleh orang Indonesi untuk pergi ke Luar Negeri; sebaliknya betapa Murah orang Luar Negeri jika ingin berkunjung ke Indonesia. Itulah salah satu Kendala betapa besar pengorbanan Bangsa Indonesia jika ingin bergaul secara SETARA dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi ternyata yang terjadi, lebih banyak dan memang demikianlah, yaitu kita hanya mampu bergaul secara Tidak Setara Secara Ekonomi dengan Bangsa lain. Contoh Pergaulan yang Tidak Setara adalah Kita menjadi TKW atau TKI di negara-negara lain. Suka duka menjadi Bangsa TKW atau TKI tentu dapat dibaca atau diikuti setiap hari di Media Masa. Oh nasib Diriku, oh nasib Bangsaku. Kenapa demikian?

Dalam Filsafat, kasus di atas itulah yang disebut sebagai Incommensurability, yaitu Dua Jenis Ukuran Dengan Skala yang Berbeda yang digunakan untuk mengukur Hal yang sama. Fenomena ini sudah muncul sejak Jaman Phytagoras. Jika Pythagoras tidak menggunakan Ukuran yang Incomensurabel maka tidak akan ditemukan bilangan Irrasional. Pada Segitiga Siku-siku, satuan yang digunakan untuk mengukur panjang sisi siku-siku adalah Bilangan Bulat. Tetapi Bilangan Bulat tidak mampu mengukur Panjang Sisi Miring karena ternyata dia adalah Bilangan Irrasional.

Kembali ke contoh kasus dimuka, dapat disimpulkan bahwa Incommensurability yang terjadi adalah bahwa Kompetensi secara ekonomi kita Tidak Sepadan dengan Kompetensi Ekonomi negara seperti Thailand. Tenaga dan Pikiran kita hanya senilai sepertigapuluh dari Tenaga dan Pikiran mereka.

Yang agak mengkhawatirkan adalah adanya kecenderungan mengukur segala sesuatu yang kita punya dengan ukuran negara luar. Yang sedang dan sudah terjadi adalah banyak sekolah/universitas yang membayar dengan Dollar agar memperoleh pengakuan Luar Negeri (International Standard). Ratusan juta rupiah bagi kita adalah angka yang sangat besar, tetapi adalah angka yang relatif kecil jika diukur dengan Dollar. Maka juga terdapat Incommensurability terhadap Beban yang ditanggung oleh sekolah atau masyarakat kita (untuk meraih ISO atau Certificate Internationa misalnya) dibanding dengan imbalan jasa bagi diberikannya ukuran Standard yang akan mereka berikan, jika kita meminta Rekomendasinya.

Bukanlah suatu kebetulah bahwa Pythagoras menggunakan Incomensurability untuk menemukan Bilangan Irrasional. Sedangkan saya menggunakannya juga Incommensurability untuk menemukan betapa Irrationalnya (tidak masuk akal)kompetensi kita dibanding Sang Power Now. Itulah keadaan yang mereka suka; sedangkan pedih dan getir dirasakan oleh Bangsa Kita (tentu bagi yang bisa dan mau merasakannya).

Jika kita ekstensikan makna dari Incommensurability ini, ternyata saya menemukan bahwa Pikiran-pikiran Guru itu juga Incommensurabel dengan Pikiran-pikiran siswa. Maka seorang Guru yang cenderung memaksakan kehendak Berpikirnya kepada Siswanya, telah menggunakan Incommensurability untuk memaksakan ukuran dirinya agar berlaku bagi muridnya. Hal demikian juga menimbulkan dampak yang Irrasional (tak masuk akal). Maka benar pengakuan Ibu Karina, bahwa sebenar-benar orang paling berbahaya adalah Diriku yang selalu memaksakan kehendak pikirnya. Itulah juga incommensurability.Itulah sebabnya mengapa pada Pembelajaran yang Inovatif, maka adalah sangat penting bagi Guru untuk mengetahui Pikiran dan Kemampuan tiap-tiap siswanya.

Dalam perkuliahan Filsafat Ilmu ini maka komunikasi saya dengan mahasiswa melalui Blog dapat diartikan sebagai salah satu usaha saya untuk mengetahui Pikiran-pikiran mahasiswa. Maka komentar-komentar mahasiswa menjadi sangat penting adanya.

Demikianlah, silahkan dinantikan pendapatnya. Semoga bermanfaat.

Amin.

Forum Tanya Jawab 61: Sisi Negatif Internasionalisasi

Oleh Marsigit

Ass, berikut saya nukilkan pendapat Ibu Rusmini, perihal Kelas RSBI yang mempunyai seting Hantu Casablanca dan Kematian RIP:

Rusmini said..
Mungkin itu adalah salah satu bukti bahwa generasi kita sudah mulai terjajah oleh dunia barat. Bayangkan setting kelasnya saja sudah menggambarkan kebanggaan mereka terhadap dunia barat. mereka bukan bangga dengan bangsa sendiri. Padahal jika mo ekstrim, kenapa nggak "POCONG", "WEWE GOMBEL","KUNTILANAK","SUNDER BOLONG", "GENDEROWO", dan lain-lain aja yang dijadikan setting kelas mereka, dan itu justru menggambarkan kebanggaan mereka pada ciri khas Hantu bangsa ini.
Kreatif ya kretif, tapi itu justu salah satu gambaran bagi kita, bahwa kita sudah dikuasai dan terjajah. Sampai hal sekecil itu pun sudah berkiblat kesana dan jadi suatu kebanggaan.
REMAJA DI USIA SEPERTI MEREKA MEMANG SEDANG DALAM PROSES MENCARI JATI DIRI. Tugas kita membantu mereka, agar mereka tidak salah arah dan terus menanamkan kebanggaan mereka terhadab bangsa sendiri. " CINTA TANAH AIR". mungkin itu adalah langkah awal sebagai usaha pembendung agar kita tidak semakin terjajah nantinya.

Tanggapan saya:
Sebetulnya saya menunggu-nunggu adanya tanggapan seperti apa yang dibuat oleh Ibu Rusmini di atas. Menurut saya, ditengah euphoria Internasionalisasi, kita tetap memerlukan daya kritis agar perjalanan diri dan Bangsa ini tidak secara naif terjebak dan terperangkap pada suatu lubang gelapnya Ruang dan Waktu. Apalagi jika hal demikian menyangkut Masa Depan Generasi Penerus. Bagai Bapak/Ibu yang belum pernah pergi ke Luar Negeri mungkin belum bisa menggambarkan seperti apa KEJAMNYA memasuki Komunitas orang atau Bangsa lain.

Menurut saya, kita akan kehilangan segala-galanya jika mengirimkan seorang yang belum cukup dewasa atau seorang Dewasa tetapi tidak mempunyai pondamen kepribadian, pergi keluar negeri dalam jangka waktu yang lama. Jika tidak mempunyai Daya Kritis maka Pengalaman Tinggal di Luar Negeri seperti Negara-negara Barat yang mempunyai perbedaan Kultur dan Budaya, akan dapat mengikis Kepribadian.

Jika tidak hati-hati maka Kelas-kelas Internasional bagi anak-anak muda (SD atau SMP) merupakan Pintu Utama masuknya pengaruh negatif Budaya Asing secara aktif dan langsung, tanpa adanya Filter lagi. Hal ini sungguh memprihatinkan jika Keadaan yang demikian luput dari pantauan Kebijakan Nasional bidang Pendidikan.

Itulah mengapa sengaja saya mem blow up gambar dan peristiwa di atas. Tetapi juga saya sungguh khawatir dan prihatin karena hanya sebagian kecil saja guru yang mampu melihat hal ini. Salah satu diantaranya adalah Ibu Rusmini.

Dalam konteks Filsafat Spiritual, semua bentuk komunikasi Material, Formal, Normatif maka haruslah bermuara kepada Nilai Spiritual.Segenap langkah dan tindakan kita adalah doa-doa kita. Tulisan-tulisan kita adalah doa-doa kita. Setiap ucapan-ucapan kita adalah doa-doa kita. Maka setiap Karya-karya siswa apakah itu kreativitas di Kelas, Daftar Hadir danproduk-produk yang lainnya, semuanya itu dapat dipandang sebagai Doa mereka.

Belum lagi jika berbicara dari sisi Nilai Spiritual secara Transenden, yaitu nilai-nilai Doa yang imanent dan tersembunyi dibalik misteri diri dan fenomena yang lain atas kehendak Nya. Itulah yang dilakukan oleh para Spiritualis Islam Tasauf atau Sufi. Menjaga kesucian hati, pikiran, dan lingkungan adalah wajib hukumnya agar terjamin lingungan yang terbebas dari unsur-unsur hitamnya Syaitan yang selalu mengintai diri manusia.

Bagi seorang Sufi, makanan Bakmi di warung di Pinggir Jalan, yang memasaknya tidak didahului dengan Doa, maka makanan demikian bersifat kotor. Bersihnya Zat dikarenakan Doa itu adalah unsur-unsurnya Syurga; sedangkan Kotornya Zat dikarenakan tidak adanya Doa, itu adalah unsur-unsurnya Syaitan. Maka memakan Bakmi di warung Pinggir Jalan yang tidak dibersihkan dengan Unsur Doa, sepertinya dirasakan seperti Memakan Ratusan Cacing; demikian penuturan seorang Ahli Tasauf Sufi.

Saya menggunakan sisi pengalaman orang Tasauf ini sebagai pembanding, betapa Hiruk Pikuknya kehidupan Pragmatismyang disponsori oleh Sang Powernow, telah merasuk kedalam relung hati, pikiran dan tindakan kita dalam kesehariannya, tanpa kita mampu lagi berpikir kritis mengujinya. Inilah salah satu sisi negatif dari adanya Program Internasionalisasi sekolah. Ibarat serangan Virus, maka Virus Negatif Powernow telah menjangkau Telur-telur kita. Nau dzubilah mindzalik.

Bagaimana jadinya masyarakat dan generasi penerus yang Tidak Lagi Merasa Memerlukan Agama nenek moyang? Itulah perilaku Hedonism. Hedonism di negara-negara Barat sedang gencar-gencarnya mempromosikan dunia mereka dan mencari pengikut. Filsafatnya Hedonism adalah Atheis yaitu Tidak Ber Tuhan. Di Amerika, Atheis itu setiaphari di Iklankan melalui media TV untuk mencari pengikutnya. Di Thailand beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang Profesor dari Korea dan mengenalkan diri kepada saya dengan bangganya mengatakan "I am Atheis. I have no God". Itulah internasional?

Bacalah kembali Elegi Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar, itulah gambaran seorang yang lupa akan Tuhan Nya dan tidak merasa memerlukan Agama lagi, dikarenakan kesibukannya urusan Dunia yang diciptakannya sendiri. Bukankah gambaran Kaum Jahiliah telah jelas mempetontonkan bagaimana mereka menyembah Patung yang mereka ciptakan sendiri. Patung-patung sekarang ini tentunya sangat canggih dan bervariasi.

Pernyataan generasi muda yang sudah mulai bosan dengan nilai-nilai Agamis tentu menjadi bahan instrospeksi bagi generasi Tua. Contoh, teladan yang tidak baik dan peristiwa haru biru di tingkat nasional termasuk Korupsi telah menyebabkan generasi muda kehilangan pijakan dan arah hidupnya. Sungguh krisis multi dimensi bangsa masih sedang berlangsung. Krisis multi dimensi ini hanya bisa dilihat dengan hati dan pikiran yang jernih (filsafat).

Itulah sekelumit keadaan pembandingnya.Kejadian ini sekaligus menunjukkan Betapa relevan dan pentingnya selalu Berpikir Kritis dalam pengalaman seperti yang diharapkan ketika kita mempelajari Filsafat.

Ibu Rusmini dan tentunya saya dan harapannya yang lain, telah berusaha menjadi Saksi bagi aspek kehidupan. Seperti yang pernah saya ungkapkan bahwa Setinggi-tinggi Gelar orang Mempelajari Filsafat adalah Menjadi Saksi. Demikian semoga melalui perkuliahan ini, akan muncul Saksi-saksi baru untuk mengawal Hidup ini. Amin

Ya Allah ya Rob, ampunilah segala dosa-dosa kami, murid-murid kami, Pemimpin kami, orang tua kami, Bangsa kami. Amin

Ditunggu komen-komennya, semoga bermanfaat dan mencerdaskan hatidan pikiran kita.
Amin

Forum Tanya Jawab 60: Refleksi adalah Berpikir Tingkat Tinggi

Oleh Marsigit

Ass, berikut saya nukilkan sebuah Refleksi dari Bapak Fauzi Rakhman Kalsel, dari pengalamannya mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu ini:

fauzirahmankalsel2010 said...
Ass...

Metode yang Bapak kembangkan dalam mempelajari filsafat adalah lain dari yang lain. Kalau guru/dosen lain masih menggunakan metode konvensional, sebenar-benar itu dapat dilakukan setiap orang secara otodidak, beli saja buku tentang filsafat ilmu, selesai masalahnya.Metode yang Bapak kembangkan sebenarnya mengajarkan kami bagaimana belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu, bagaimana agar pikiran kami betul-betul terbuka, bagaimana agar kami tidak terisolasi, bagaimana agar kami tidak terjebak hedonisme, bagaimana agar kami tidak menjadi orang yang paling berbahaya, bagaimana agar kami terus belajar, bagaimana agar kami terus membaca dan membaca tanpa dibatasi usia-ruang dan waktu, bagaimana agar kami bersikap bijak, bagaimana agar kami tidak menjadi mitos, bagaimana agar kami menjadi logos, bagaimana agar kami tidak menjadi orang yang paling bodhoh, bagaimana agar kami dapat mempelajari pikiran para filsuf, bagaimana agar kami memahami arti hidup dan kehidupan, bagaimana agar kami dapat bekerja , bagaimana agar kami dapat menjadi orang tua berambut putih bagi siswa-siswa kami, bagaimana agar kami dapat membangun filsafat sendiri, bagaimana agar kami dapat membangun filsafat pendidikan matematika, bagaimana agar kami dapat membangun filsafat sains, bagaimana agar kami dapat membangun filsafat pendidikan sainsimana agar aku dapat membangun filsafat kimia, bagaimana agar aku dapat membangun sendiri filsafat pendidikan kimia, bagaimana agar kami dapat memecahkan masalah kehidupan,bagaimana agar kami dapat mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kami, bagaimana agar kami menjadi manusia taqwa di sisi Allah SWT...

Tanggapan saya:
Untuk pebelajar orang dewasa seperti Bapak/Ibu yang sekarang sedang mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu, merefleksikan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh seorang Dosennya (saya) tidaklah terlalu istimewa, karena salah satu kemampuan orang dewasa memang melakukan Refleksi. Tetapi bagaimanapun juga kegiatan Refleksi yang dilakukan oleh Bapak Fauzi Rakhman, mengandung nlai pedagogik yang menarik untuk disimak, mengingat bahwa sebagian besar dari kita semua adalah seorang Pendidik atau Calon Pendidik.
Yang ingin saya ungkapkan di sini adalah bagimana kegiatan Refleksi di atas bisa menjadi inspirasi kita dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas masing-masing. Maksud saya, bahwa bagi seorang siswa SMP atau SMA, lebih-lebih seorang anak SD, maka Reflaksi merupakan suatu tahap berpikir paling tinggi. Dilihat dari formatnya, maka Refleksi adalah akumulasi pengalaman belajar. Seperti kita ketahui bahwa dalam mencapai kompetensinya seorang siswa melalui tahaptahap: Will, Attitude, Knowledge, Skill, dan Experience. Maka kegiatan Refleksi merupakan kegiatan akumulatif setelah seorang siswa memperoleh berbagai pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya. Jadi kegiatan Refleksi merupakan indikator bahwa Siswa merasa Senang dan memperoleh manfaat serta diakui keberadaannya di kelas. Refleksi juga mengandung unsur-unsur kesimpulan atau resume dari belajar yang telah dilaksanakannya. Kegiatan Refleksi juga mengandung pengertian bahwa siswa telah merasa memiliki ilmu dan kompetensi yang diharapkan. Di sini, dalam perkuliahan Filsafat Ilmu, dengan kegiatan Refleksinya, insyaAllah Bapak Fauzi Rakhman telah dan sedang mulai memiliki Filsafat Ilmu, yaitu telah dan sedang merasakan bahwa Filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah dirinya sendiri. Amin.
Agar para siswa mampu melakukan kegiatan Refleksi maka perlu dipromosikan sikap mandiri dan kemerdekaan berpikir, otonomi serta menjadikannya sebagai Subyek belajarnya.Disamping itu, agar guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar siswa dengan berbagai ragam kemampuan mereka, maka guru perlu mengembangkan Teknologi Pembelajaran. Metode Tradisional atau Konvensional tidak akan pernah mampu melakukan hal itu. Lembar Kerja Siswa (LKS) atu Students' Worksheet merupakan sarana yang sangat Strategis dalam pembelajaran inovatif. Komputer dan internet dapat dipertimbangkan dan dikembangkan sebagai sarana pendukung dan sumber belajar. Seperti dirasakan dan dialami sendiri oleh Bapak dan Ibu, dalam kuliah Filsafat Ilmu ini, saya mengembangkan Teknologi Webblog dengan Elegi-elegi, dan alhamdulillah ternyata terasa mampu menjadi sarana pembelajaran yang insyaAllah, efektif. Amin
Demikian semoga bermanfaat. Amin

Jumat, 30 Desember 2011

Forum Tanya Jawab 59: Mengkonstruksi Hidup

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah Refleksi belajar filsafat dari Ibu NurelAmelya PSn, Kalsel. Walaupun saya menyadari bahwa refleksi yang dilakukan mungkin setelah adanya Test Jawab Singkat, yang kemudian dirangkumnya dalam bentuk Paragraf, tetapi saya melihatnya sebagai suatu pencapaian belajar Filsafat yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Marilah ikuti secara seksama:

Refleksi dari Ibu Nurel Amelya PSn Kalsel 2010 :
Assalam...
Menghidupkan filsafat...
Karena filsafat itu adalah diriku dan selain diriku.
Dalam kehidupan diriku sering ku pikirkan obyek diluar pikiranku, ku memandang sesuatu disekitarku dan nyata terlihat olehku maka itukah realisme.
Dalam kehidupanku sering kugunakan akalku maka itulah rasionalisme.
Kemudian ku juga sering gunakan pengalamanku maka itulah empirisisme. Ku coba berusaha mengetahui tentang kebenaran yang mutlak maka itu adalah absulotisme. Disekitarku ada alam dengan segala benda-bendanya maka itu yang disebut naturalisme. Kadanag dalam hidupku ada keraguanku maka itulah skeptisisme
Hidupku adalah juga dimana aku harus memilih itu adalah Reduksionisme, dan kadang hidupku menginginkan kenikmatan dunia maka saat itu aku Hedonism. Aku menyembah tuhan yanng hanya satu maka saat itu aku monism, ada juga yang kuketahui dua maka saat itu bisa kusebut paham dualisme, aku juga berusaha mengetahui yang banyak maka saat itu aku pluralisme. dengan statusku seorang guru kadang dalam proses pembelajaran ku berikan contoh ke siswa lalu disimpulkan maka saat itu bisa dikatakan induktionisme, atau juga kadang pembelajaran berawal dari kesimpulan tentang sesuatu baru siswa dan aku mencari contoh-contohnya maka saat itu deduksionisme. kadang ku menyadari bahwa ada sesuatu yang tiada maka nihilisme, Pikiranku tak berhenti tuk memahami apa maksud dari filsafat maka itukah Infinite regress pada diriku.

Tanggapan dari saya:
Apa yang direfleksikan oleh Ibu Nurel Amelya, hanyalah baru sedikit dari segala yang ada dan yang mungkin ada yang dapat diungkapkan. Sebagai manusia yang berusaha berpikir kritis, maka menjadi tantangan kita bersama untuk menambahkan sifat-sifat filsafati yang ada pada diri kita. Seperti selalu saya katakan bahwa, Filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri. Kita bisa menengok segala jenis Filsafat, Absolutism, Realism, Empiricism, Spiritualism, Kapitalism, ...dst...pada diri kita masing-masing. Tanyakan pada diri kita apakah kita telah menjadi seorang Guru yang Otoritarian atau seorang Guru yang Demokratis. Seorang anak yang Idealis atau seorang anak yang Realis. Seorang tua yang Spiritualis atau yang Kapitalis..dst.
Untuk komen-komennya, silahkan bisa dtambahkan atau diteruskan Refleksi ini. Yang menggembirakan danyang diharapkan bahwa Refleksi demikian bukanlah karena Given oleh Guru atau Dosennya, melainkan oleh inisiatif dan kreativitas Muridnya melalui fasilitas Guru atau Dosennya. Itulah yang saya harapkan dari Kuliah Filsafat ini yaitu bahwa Murid-muridku mampu membangun (mengkonstruksi) sendiri Filsafatnya masing-masing Amin.

Laporan Hasil Perjalanan Imaginer Oleh Muhammad Yusuf Bima

Assalamu'alaikum Wr...Wb...
Dalam menjalani episode kehidupan, manusia tidak pernah terlepas dari adegan-adengan yang cukup menantang dalam scine yang dikemas secara apik oleh sang sutradara Tunggal yaitu Allah SWT. Semuanya dalam rangka menyeleksi siapa hamba-hambanya yang paling patuh dengan action yang termuat skenario yang diturunkan Allah pada manusia pilihannya yaitu Muhammad SAW. Perjalanan Imaginer akan terasa mengasikkan bagi siapapun yang sudah memahami hakekat perjalanan itu sendiri. Seperti contoh bagaimana seseorang merindukan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Saat-saat terakhir untuk berpisah baik itu berpisah dalam arti meninggal atau berpisah dalam arti pindah tempat tinggal, saat itu terkumpul semua kenangan-kenangan yang baik seolah-olah tidak ada yang cacat selama dalam pergaulan itu. Baginya kesalahan-kesalahan itu terkubur dan menghilang bersama ruang dan waktu yang tidak perlu diingat-ingat lagi. Begitu banyak kenangan-kenangan manis yang selalu diingat seiring perputaran waktu ditandai dengan bergeraknya jarum jam detik demi detik. Baginya orang pergi itu seolah-olah banyak meninggalkan pesan disekelilingnya, pesan yang tertulis di jendela kamar "Lihatlah selalu dunia luar", artinya jangan hanya mengurung diri di kamar, dilangit-langit kamar seolah-olah ada tulisan "bercita-citalah setinggi mungkin", di jam dinding menyimpan pesannya "Setiap menit itu berharga", cerminpun meninggalkan dititipi pesan "berkacalah sebelum bertindak", tak ketinggalan kalender dimeja menyimpan catatannya "jangan menunda pekerjaan sampai besok", pintu seolah-olah berteriak "Dorong yang keras & pergilah", yang paling diingat oleh orang tadi adalah pesannya yang tertinggal di atas sajadah "bersujud dan berdo'alah selalu. Teringat dengan hidup yang penuh terbatas saat yang lalu, terkenanglah semua kebaikan-kebaikan yang pernah dipersembahkan orang lain terhadap dirinya, sekarang orang yang paling berjasa itu telah meninggal dunia untuk selamanya. Baginya dia tidak mati, tetapi masih hidup yang selalu mengingatkan pada saat dia lupa, saat dia lemah dengan meninggalkan pesan-pesan yang baik bagi kelangsungan hidupnya. Orang yang diceritakan dalam kisah ini adalah diriku yang dulu masih menjadi "Yusuf kecil sampai akhirnya menikmati kehidupan 12 tahun di Bandung, dan sekarang menikmati hidup lagi di jogjakarta sekitar 2 tahun", orang yang paling berjasa itu adalah Guruku bernama "Tatang Hidayat dari cicalengka Bandung". Perjalanan imaginer selalu kulakukan dalam rangka mengenang tinggal bersama dengan tak terhitung pesan yang ditinggalkannya, sampai membuat Yusuf anak desa itu berubah penampilan menjadi berani menghadapi tantangan apapun. Terima kasih Guruku sekarang sudah 16 tahun sudah berada di alam barzakh, aku yakin bisa membahagiakanmu karena aku selalu mendoakanmu, berusaha mewarisi semangatmu, semoga engkau mendapatkan nikmat kubur dan tidak kecewa memiliki murid seperti diriku.